Aku membuat ini saat kau kelas tiga SD. Saat ini, aku belajar di sekolah bahasa asing ternama di Bandung, blog ini adalah tugas yang harus dibuat untuk tugas akhir semester tiga. Aku mengakui bahwa aku tidak mengerjakan blog ini dari yang seharusnya dikerjakan, karena aku bingung, aku harus menulis apa, terlalu banyak hal yang ingin aku sampaikan hingga aku bingung harus menulis apa. Aku tidak ingin membuat blog yang asal coretan saja, setidaknya jika coretan yang ada di blog tersebut dapat bermanfaat bagi seseorang, atau dapat menjelaskan seseorang akan sesuatu hal. Akhirnya aku berani kan diriku untuk memutuskan membuat coretan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanku, mungkin bisa jadi ini dikatakan aib keluarga, tapi aku lelah dengan semua yang terjadi selama ini padaku, mungkin akan banyak orang yang mengatakan semua ini rekayasa, atau terlalu berlebihan. Namun dibalik ketidak tahuan kalian, blog ini dapat mengubah hidup seseorang dan pandangan seseorang terhadapku, mungkin ini merupakan cara tuhan di masa depan, untuk memberitahukan kebenaran dan cerita yang sebenarnya terjadi selama ini pada kehidupanku. Bagaimana yang sebenarnya terjadi dibalik senyum ku pada teman-temanku, dibalik suara tawaku yang terbahak-bahak bersama kakak-kakakku, dibalik kesendirian diriku dikamar, dibalik sikapku padamu, sikapku pada ibumu, dan perasaanku pada ayah ku sendiri.
Kebenaran yang pertama akan aku ceritakan adalah, ibuku meninggal ketika terkena penyakit stroke. Saat itu usiaku masih lima tahun, ibuku mengalami penyakit stroke hingga satu tahun lebih, kau tahu ? Banyak orang yang mengatakan bahwa ibuku sakit karena ulah ibumu, banyak orang yang mengatakan bahwa ibuku sudah diguna-guna oleh ibumu. Bahkan saat ibuku dirawat di rumah sakit, ibumu menelpon bahwa ibumu tahu posisi tempat tidur ibuku, ada di ruang apa, dan bagaimana keadaannya. Itu sangat sakit bila kau mengetahuinya saat usiamu menginjak masuk sekolah dasar. Bahkan saat aku masuk sekolah dasar, aku bertanya pada kakakku yang pertama "Kenapa semua orang diantar kesekolah oleh orangtuanya? Kenapa aku diantar oleh aa??" kakakku tidak menjawab pertanyaanku, Aku ingat saat sedang berbaris di sekolah, aku mendengar suara sirine ambulan, lalu temanku bertanya "Kenapa kamu engga nangis mamah kamu meninggal ?" lalu aku menjawab "Memangnya tangisan bisa menghidupkan seseorang yang sudah meninggal?" Aku juga heran mengapa saat usiaku saat kelas satu SD sudah berkata seperti itu.
Selama dua tahun aku tinggal bersama nenekku, aku masih ingat, aku harus makan dengan kerupuk yang berbentuk ikan, berwarna pink. Nenekku selalu menggorengkan kerupuk itu, dan dulu makanan kesukaanku adalah gepuk, bahkan jika akan pergi sekolah, sarapanku adalah cakue, nenekku selalu membelikannya, karena tukang dagang itu selalu datang setiap pagi disetiap harinya, maklumlah, rumah nenekku itu sangat kecil dan masuk gang. Kau tau? Aku sama kesepiannya sepertimu dahulu, Ayah selalu menjemputku setiap hari Sabtu, mengajakku bermain, namun ayah tidak pernah membawaku pulang ke rumah, dia selalu menitipkanku di rumah nenek. Dari semua hari yang ada, aku selalu menantikan hari Sabtu, karena hanya hari Sabtu aku bisa bertemu dengan ayahku, saat itu, semua kakakku tinggal satu rumah dengan ayah di komplek. Tapi aku ? Aku sendiri tanpa kakakku dan ayahku di rumah nenek, sangat sepi dunia itu, bahkan aku sangat tidak mengerti mengapa ibuku harus meninggalkanku diusiaku yang sangat dini. Setiap harinya hampir selama dua tahun, aku dekat dengan bibiku, dia yang mengajarkan aku belajar, membantuku mengerjakan PR, sekarang, bibiku sudah mempunyai tiga anak. Setelah ibuku meninggal, dua minggu setelahnya, ayah menikah lagi, dan ayah menikah dengan ibumu. Kau belum terlahir saat itu, entah bagaimana kegentingan saat itu, karena aku masih sangat kecil dan belum mengerti apapun.
Kami semua pergi ke cirebon, untuk menyaksikan pernikahan ayah dengan ibumu, disaat itulah alasan dari semua sikapku dan kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Kebenaran yang kedua sikap ibumu dan kakakmu padaku saat aku SD, mungkin ini adalah penyebab mengapa sikapku seperti ini kepadamu, mungkin ini adalah alasan mengapa sikapku seperti ini, munkin inilah yang membentuk kepribadian dan sikapku. Kejadian ini sangatlah lama dan panjang bahkan melelahkan, ini terjadi selama enam tahun lebih, ya, itu usia pernikahan ayah dan ibumu. Saat aku datang ke rumah ayah, aku bertemu dengan seorang anak kecil tiga tahun lebih muda dariku, dan lima tahun lebih tua dariku. Ya, kau tau siapa mereka, mereka adalah kakak kandungmu namun beda ayah, bahkan kedua kakakmu itu sama-sama berbeda ayah, kau bisa menebak, berapa kali ibumu menikah dengan laki-laki berbeda dan memiliki anak ?
Saat kau masuk SD, lalu ibumu pernah mengajak kau berlibur ke cirebon, dia mengenalkanmu dengan kakak-kakakmu, yang katanya kau bilang bahwa kakakmu yang kedua (berbeda tiga tahun lebih muda daripada aku) bekerja di bank. Hahahaha, kau pikir kami semua bodoh? Kakakmu itu seusia dengan anak tetangga depan rumah ayah, bahkan dulu, mereka satu sekolah SD. Anak laki-laki tetanggaku itu, masih sekolah kelas tiga SMA, dan kau bilang bahwa kakakmu itu bekerja di bank??? Tidak masuk akal, sayang.
Lalu kau bilang bahwa kakakmu yang pertama (yang lebih tua dariku) mempunyai bisnis bengkel dan cuci motor? kau harus tau, saat dia sekolah kelas dua SMA, perceraian terjadi antara ayah dan ibumu. Itu menyebabkan kakakmu putus sekolah, aku tidak tahu bagaimana dia melanjutkan pendidikannya. Tanyakan padaku bagaiman sikap mereka kepadaku? Sebelum kau terlahir kedunia ini, sebelum perceraian itu terjadi. Kakakmu yang kedua, dia satu sekolah denganku, saat aku kelas tiga SD, dia kelas satu SD, saat itu program sekolah di SD, kelas satu, tiga dan lima, memiliki jadwal masuk sekolah yang sama, sementara kelas dua, empat, dan enam memiliki jadwal masuk sekolah yang sama. Jadi, jika seandainya saat itu aku kelas tiga sementara kakakmu kelas dua, kami tidak akan pergi sekolah bersama.
Banyak sekali ketidak adilan saat aku SD, dimulai dengan pemberian uang jajan. Saat itu aku hanya diberi uang jajan dua ribu rupiah, 500 rupiah untuk pergi sekolah naik angkot, 500 rupiah untuk pulang sekolah, jadi aku hanya dapat jajan 1000 rupiah, saat di sekolah, untuk membeli indom*e atau mie instan adalah 1000 - 2000, 2000 harga untuk indom*e, dan 1000 harga untuk mie sar*mi. Terkadang aku suka menangis aku mendapatkan uang jajan yang sedikit, namun aku mensyukuri semua itu. tapi kakakmu, dia mendapatkan uang jajan 4000, sungguh enak bukan ??? Bahkan aku terkadang berjalan kaki saat pulang sekolah, sendirian, karena aku ingin mendapatkan tambah 500 rupiah untuk jajan, kau tau? Aku bahkan menjual barang-barang yang aku miliki hanya untuk jajan, dan membeli LKS di sekolah. Karena aku tidak pernah dibelikan buku oleh ibumu ! Ayah, tidak tau soal ini. Untuk renangpun aku harus mengutang pada temanku, untuk buku pelajaran, aku mendapatkan buku bekas dari kakak temanku, selama tiga tahun, aku menggunakan buku bekas, aku menghapus semua jawaban dengan tip-ex, buku itu penuh cat putih, aku selalu dimarahi oleh guru karena bukuku penuh dengan coretan tip-ex, aku selalu dibully karena disebut anak miskin, miris bukan ? Semua orang mengetahui ayahku adalah kepala sekolah SMP, dan aku memiliki mobil, dan rumah yang tingkat. Tapi untuk membeli buku saja tidak mampu??? Tanyakan pada ibumu, kemana uang untuk membeli semua bukuku saat aku SD ??!!!
Kau tahu kakakmu itu selalu menyuruhku mengerjakan PR nya, kakakmu selalu mengadukan hal yang tidak benar disekolah pada ibumu, itu membuat aku disiksa oleh ibumu. Kau ingin mendengar bagaimana aku disiksa oleh ibumu??? Rambutku dijenggut, ditarik sekerasnya, lalu membantingkan kepalaku kepintu, kau tahu piring??? Di melemparkan piring itu ketubuhku!!! Kau tau sapu dan lap pel??? Dia memukulku dengan barang-barang itu, kau tidak percaya ??? Kau butuh saksi ??? Pembantu rumah tangga yang pernah bekerja di rumah ini saat ibumu tinggal disini, mereka semua melihat kejadian itu. Kau tau bila ibumu masak, dia menghitung semua jumlah masakannya, aku masih ingat, saat ibumu membuat perkedel kentang, dia menghitung berapa jumlah perkedelnya, dan bila perkedel itu habis atau hilang banyak, dia menyalahkanku dan menyiksaku !!! Saat SD, aku tidak pernah memakan telur, atau daging, karena aku tidak boleh memakan itu semua. Saat aku ingin mengambil perkedel dua bijipun, aku menaruhnya di atas piring, lalu menutupinya dengan nasi, dan ibumu selalu memperhatikan apasaja yang aku ambil. Untuk jajanpun, aku harus menyembunyikan batagor, basreng, atau jajanan lain yang aku beli di balik celana dalamku !!! Itu semua aku lakukan agar ibumu tidak menyiksaku, karena ibumu tau, aku tidak pernah di beri uang jajan tambahan, maka apabila aku membeli makanan ibumu akan heran dan bertanya dari mana aku mendapatkan uang, bila ibumu tau aku mendapatkan uang dari kakakku atau ayah, yang aku minta dengan sembunyi-sembunyi, aku akan disiksa lebih parah lagi... bahkan kakak pertamamu, mengetahui itu, dia pernah menghentikan penyiksaan yang dilakukan ibumu padaku, dia mengehentikannya saat kepala aku akan di pukulkan ke pintu... dan saat kau pulang dari liburanmu, lalu memintaku untuk berbicara dengan kakak keduamu ??? Aku langsung pergi ke atas menuju kamarku, dan tidak pernah mau berbicara dengan kakakmu itu... aku rasa kau tau sekarang, alasan dari sikapku itu...